Monday, January 28, 2013

Satu Kisah Sepasang Pengantin Baru Yang Bergabung Dalam Jihad Suriah

Shoutussalam - Sang mempelai pria yang juga seorang mujahid itu memiliki nama Mahmud al Halabi. Dulunya, ia pernah berprofesi sebagai sopir pribadi istri seorang menteri dari rezim Suriah. Sedang sang mempelai wanita, Nur al Hassan, dulunya adalah seorang penata rambut. Di awal meletusnya jihad dan revolusi Suriah, pemberontakan pribadi mereka membawa mereka bersama-sama dan sejak itu mendorong mereka berdua untuk bergabung dalam kafilah mujahidin di kota Aleppo melawan tentara rezim Syi’ah Bashar al Assad.

Mahmud yang berumur 28 tahun bergabung bersama tentara revolusi (baca : mujahidin) di garis depan pertempuran di wilayah Sheikh Saeed, setelah sebelumnya dipecat dari pekerjaannya tiga tahun lalu. Dia mengatakan bahwa dia dipenjara dan disiksa oleh rezim selama kurun waktu satu tahun, lalu dipaksa untuk pergi meninggalkan Suriah. Apa kejahatannya? Dia telah jatuh cinta dengan putri menteri dimana ia bekerja.
Ia pun kemudian melarikan diri ke Libya, dan bergabung dalam revolusi disana yang pecah pada bulan Februari 2011. Ia bergabung dengan teman-temannya dalam pertempuran melawan pasukan loyalis rezim Muammar Gaddafi.

"Di sinilah saya belajar sebagian besar ketrampilan militer, dan kini saya gunakan untuk memerangi Assad," kata Mahmoud pada wartawan Al Jazeera di Sheikh Saeed, wilayah dimana sekarang menjadi garis depan pertempuran paling aktif di kota Aleppo.

Sementara itu, Nur yang berumur 22 tahun, dulunya adalah seorang penata rambut di sebuah salon terletak di pusat kota Aleppo. Dia juga putri seorang pejabat senior di Partai Baath yang berkuasa di Suriah.
Beberapa bulan berlangsungnya Jihad dan Revolusi Suriah, Mahmud kembali ke kampung halamannya di Aleppo untuk bergabung dengan saudara mujahidin lainnya dalam perjuangan menggulingkan rezim Assad. Sementara itu, Nur membuat sebuah akun Facebook dengan nama samaran dan menjadi aktivis di jejaring sosial, mengorganisir aksi protes dan menyebarkan berita-berita seputar penindasan rezim terhadap rakyatnya.

Ketika ayah dan kakaknya yang masih menjadi pendukung setia Assad, mengetahui  aktivitas dan ketrelibatannya dalam barisan oposisi pemerintah, mereka memukulinya hingga berakhir dengan terbaringnya ia di rumah sakit. Kisahnya pun menjadi bahan perbincangan di kota, dan kabar itu sampai ke telinga Mahmud.

"Sepulang saya dari rumah sakit, saya terjebak dikurung dalam rumah. Mahmud akhirnya datang untuk membantu lari," katanya. "Saya belum mengenalnya dengan baik, meski begitu saya tetap bertekad untuk pergi bersamanya. Saya benar-benar membelot dari keluarga saya."

Keduanya kemudian mulai mengatur aksi-aksi protes dan mendistribusikan pamflet-pamflet anti-rezim. Revolusi pun mulai masuk dalam fase perjuangan bersenjata, mereka berdua pun memberikan dukungan.
"Kami mulai membantu memasok senjata-senjata ke daerah Salaheddin, bersama-sama aku mengajarinya bagaimana menggunakan senjata. Awalnya, aku mengajarinya sebagai perlindungan diri, karena ayahnya berupaya melakukan penculikan terorganisir untuk membawanya pulang kembali," kata Mahmud.

"Ia kemudian ingin berpartisipasi dalam pertempuran. Kami pun berjibaku dalam sejumlah pertempuran bersama-sama. Dia akhirnya menemukan jalan hidupnya...," lanjutnya.

Nur kini telah menjadi seorang wanita penembak jitu handal di garis depan pertempuran Sheikh Saeed, di mana mujahidin mencoba untuk mendesak pasukan rezim dan memblokir jalur utama menuju Bandara Internasional Aleppo. Baru-baru ini, dia mengatakan bahwa dia berhasil memburu dan menembak mati seorang sniper rezim yang menargetkan para mujahidin di sekitar wilayah itu.

Rekan-rekannya memanggilnya dengan julukan yang bisa dikata terasa “maskulin”, Abu al Nur.
"Saya tidak melihat dia sebagai seorang perempuan. Dia adalah salah satu penembak jitu terbaik yang kita miliki di batalyon..  Begitulah cara saya melihatnya," kata seorang mujahid bernama Ahmad.

Nur mengatakan tidak ada yang bisa menghalangi para wanita untuk bergabung dalam kancah pertempuran bersenjata, "Sayangnya banyak dari mereka tidak bergabung, mungkin lantaran lemahnya iman atau hati".
Nur dan Mahmud menikah pada Juli 2012, satu tahun setelah mereka bertemu.

"Suatu ketika saya terluka di medan tempur terbuka, ia melindungiku dan menyeret saya mundur dari kecamuk pertempuran, suatu tindakan dimana tidak ada satupun orang dari batalyon kami yang berani melakukannya," kenang Mahmud.

"Saat itulah saya memutuskan bahwa dia adalah wanita yang tepat menjadi pendamping hidup. Kami pun menikah beberapa hari setelahnya.."

Nur mengatakan dia berjuang "karena Allah", dan tidak akan kembali ke keluarganya.
"Penglihatan orang tua saya sudah tertutup dan sudah tak bisa lagi mengenali kebenaran. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan  untuk mereka.."

[arkan/ aljazeera]

No comments:

Post a Comment